Jumat, 26 Oktober 2007

Nostalgia nongkrong di warung Sekolah

 

Foto hanya illustrasi

Membicarakan tongkrongan kala SMA, tentu tak bisa lepas dari deret warung tempel di Pojok belakang sekolah. Tempatnya memang rada sakral karena tepat di belakangnya adalah kawasan pekuburan tua. Warung-warung tempel itulah yang dulu bahu-membahu menyuplai kebutuhan-kebutuhan perut sampai dengan kerongkongan yang haus. Dagangan yang digelarnya pun lumayan variatif; aneka rupa jajan, dari yang racikan sendiri sampai yang bungkusan instan, dari makanan berat ala soto sampai yang seringan 'kwaci', dari air putih yang 'free' sampai es cendol. Pokoknya mereka selalu meng-update kenginginan bocah-bocah.
Semenjak pagi buta, sebelum bel sekolah dibunyikan (yang konon kalau pagi gema bunyinya sampai bukit piyungan-ini sebabnya mengapa murid-murid dari piyungan jarang terlambat), para kru warung tempel ini sudah sibuk bahu membahu mempersiapkan diri. Kebetulan deretan warung tempel ini adalah usaha keluarga ‘ikatan istri-istri penjaga sekolah’, sehingga para kru, chief sampai waitress adalah ‘mengerahkan’ anggota keluarga masing-masing. Beberapa dari keluarga-keluarga juga menempati rumah dinas di pojok sekolah.
Tidak hanya sekedar warung, tapi berkembang fungsi sebagai tempat yang asyik untuk "mojok", melepas lelah sehabis berkutat dengan buku-buku paket dan guru-guru yang cerewet, sampai dengan menitipkan salam tempel buat gadis-gadis kelas sebelah.
Dulu memang belum ada 'handphone' sebagai sarana komunikasi canggih, Bu Edilah yang menjadi mediator, mak comblang dan sarana kirim-kiriman salam diantara para pelanggan. Yah, muka (maaf) amburadul dan kenes menjadi ikon unik comblang jitu. Wajah Bu Edi memang mengingatkanku pada tokoh dalam video klip dakocang.


Tiga deret warung penyuplai logistik dan jajan saat bel istirahat berdentang ini memang punya karakteristik konsumen sendiri-sendiri. Ndak tau sejak kapan terbentuk pola seperti; Warung bu Edi lebih banyak konsumen cowok-cowok n para 'geng-geng', jagoan-jagoan dan mafia-mafia angkatan. Mungkin karena sifat Bu Edi yang memang 'ceplas-ceplos' dan pintar 'ngemong' para cowok-cowok ABG (Anak Baru Ge-mede) ini yang membuat ia lebih banyak menyerima


Dari Kipas Helikopter sampai Garuda Pancasila
Masing-masing warung memang punya strategi sendiri-sendiri untuk menggaet mangsa. Bu Edi misalnya, untuk membuat bocah-bocah ini duduk nyaman, ia memasang sebuah kipas angin helikopter di atapnya. Meski tidak banyak berfungsi, kecuali justru bikin bunyi gaduh dan pusing di kepala, tetapi setidaknya
Yah, meski saling berkompetisi, mereka cukup akur, bahkan kadangkala kalau stok makanan habis, bertukar makanan lewat pintu belakang adalah hal biasa.

Kontak Jodoh Ala Bu Edi  
Bu Edi orangnya memang supel. Ia tak pernah lepas ngobrol dengan semua anak-anak yang nongkrong di kantinnya. Ia hapal betul anak-anak yang biasa mangkal di kantinya. Maka jika beberapa hari tidak terlihat batang hidungnya di kantin itu, sontak bu Edi akan menanyakan apa gerangan terjadi padanya. Karena begitu akrabnya dengan anak-anak yang biasa mangkal, maka lengkaplah sudah Tupoksinya selain sebagai operator kantin, ia jadi semacam induk semang yang jadi ajang curhatan anak-anak itu. Kadangkala tugasnya bertambah lagi menjadi konsultan asmara serta jasa kontak jodoh lintas kelas. 
Anak-anak cowok senior kelas 3, biasanya mengulik informasi dahulu dari Bu Edi, tentang si cewek A atau si cewek B adik kelas yang diliriknya. Walhasil, jika informasi dirasa cukup, maka si cowok akan melangkah ke jenjang berikutnya dengan memberanikan diri menitip salam tempel pada si cewek adik kelas. Tak ada yang tau persis sampai sejauh mana tingkat keberhasilan ini, tetapi tradisi salam tempel ini berjalan terus, konon sampai saat ini.
 
Pasar Gelap ala anak-anak IPS
Deretan kantin itu, termasuk kantin Bu Edi dauhulu benar-benar merupakan kantin tempel yang benar-benar dindingnya menempel pada dinding yang lain yang kebetulan merupakan dinding pagar sekolah yang sebelahnya adalah kuburun. Maka terbayang jika malam ataupun sore, ketika kerumunan sudah mulai surut, suasana di deretan pojok kantin ini jadi agak menyeramkan. Barangkali, ini bagian dari strategi sekolah agar anak-anak yang tidak membolos melalui jalur kantin
Selain menempel di dinding pagar, deretan kantin itu, dahulu persis di belakang bangunan kelas III IPS dimana bangunan kelas III IPS ini terdiri dari 2 tingkat. Di tingkat 2 adalah bangunan kelas III IPS 2 dimana dahulu diriku terdampar di bulan-bulan terakhir sekolah SMA. Kelas III IPS ini, karena berada di lantai II, ada lantai pendek sepanjang sisi jendela, yang sepertinya fungsi desain awalnya adalah atap samping bagi bangunan kelas di lantai bawahnya. Karena fungsi pokoknya adalah atap samping, maka tak ada jalan masuk selain lompat melalui jendela kaca samping kelas yang sebagian bisa dibuka. Lambat laun, tempat itu jadi tempat yang strategis untuk sekedar membolos sebentar saat jeda pelajaran. Ada 2 tantangan untuk bisa mengakses tempat rahasia ini, yakni selain celahnya yang sempit juga jeda waktu antar pelajaran yang tak bisa diprediksi. Lambat laun pula tempat itu jadi ajang transaksi gelap jajanan dari kantin dengan mekanisme transksasi yang kemudian dilembagakan berupa transaksi via ember. Anak-anak menaruh duit dan catatan di ember, kemudian ember itu diturunkan dari "tempat rahasia" di lantai II ke arah kantin di bawahnya. Bu Edi atau yang lain dengan sigap menangkap ember, memeriksa dan melayani catatan transaksi satu satu.  Lalu akan ditaruhnya jajanan seperti permintaan di ember sekaligus apabila ada duit pengembelaian.Terakhir Ia akan memberikan kode untuk ember bisa ditarik diatas kembali untuk kemudian kami bisa menikmati jajajan kantin ala pasar gelap ini.


Jasa Penitipan Barang 
Sekolah kami dulu tidak ada loker-loker khusus ala sekolah sekolah di eropa atau di film-film yang diceritakan di Holywood itu. Jadi kami terbiasa mencari sendiri lokasi tersembunyi untuk menaruh 'barang-barang yang sengaja ditinggal. Terbayang masa SMA dengan tumpukan buku pelajaran yang harus kami lahap dan selesaikan dari senin sampai sabtu. Idealnya 1 mata pelajaran bisa beberapa buku termasuk buku catatannya. Bagi anak-anak kelas III yang beberapa sudah mulai dilanda disorentasi rutinitas sekolah dan membawa-bawa buku, akhirnya ada yang bersiasat meninggalkan barang-barang sekolah ini di sekolahan juga. Buku-buku, seragam olahraga, sepatu, sandal, topi dan pernak-pernik lainnya. Mungkin karena terlalu banyak tempat persembunyian barang-barang 'yang sengaja ditinggal' ini, akhirnya deretan kantin itu juga jadi ajang penitipan yang 'strategis'.


3 komentar:

Anonim mengatakan...

PERMISI....
numpang lewat yaaaa

Anonim mengatakan...

http://lumerkoz.edu Best Wishes!, http://www.comicspace.com/atrovent/ bare http://riderx.info/members/Buy-Doxycycline.aspx shortest http://soundcloud.com/aldactone sloppy itwas http://talkingaboutwindows.com/members/Buy-Clarinex/default.aspx bellows http://www.comicspace.com/zocor/ amreco

Anonim mengatakan...

Dolanan jailangkung, soale mburine kuburan...pas dadi malah jranthal mlayu kabeh, main kartu, nonton buku sepep, dll, trutama sing lingguhe mburi dewe 🤣